Kamis, 30 Juni 2016

ASAL-USUL HARI RAYA IDUL FITRI

Hari Raya Idul Fitri, atau ada juga yang menyebutnya Lebaran, sebentar lagi tiba. Ada yang gembira menyambutnya. Ada yang bersedih karena akan berpisah dengan Ramadhan. Kamu termasuk yang bagaimana?
Aku dan Bundaku memakai baju Lebaran... 
hihi foto dari tahun kapan ya. Sori ya, nggak ada  foto ilustrasi terbaru.


Kalau aku sih, ya gembira... ya bersedih juga hihihi.... Tapi tahukah kamu bagaimana asal-usulnya ada Hari Raya Idul Fitri?
Hampir semua sumber menyebutkan bahwa Hari Raya Idul Fitri dirayakan sebagai pengganti Hari Raya lain. Hah, Hari Raya apaan?
Perayaan Hari Raya Idul Fitri tidak bisa dilepaskan dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud. Begini lengkapnya hadis itu:

Diriwayatkan dari ‘Anas RA berkata: Ketika Rasulullah SAW datang ke Madinah dan penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang di dalamnya mereka berpesta-pesta dan bermain-main di hari itu pada masa jahiliyah. Lalu Beliau SAW bersabda: Apakah dua hari itu? Mereka berkata: pada hari itu kami berpesta-pesta dan bermain-main dan ini sudah ada sejak zaman jahiliah dulu. Maka Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya Allah telah menggantikannya untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik yaitu Hari Raya Idul Adha dan Hari Raya Idul Fitri. (Hadis Riwayat Abu Daud).

Ada yang bilang hari raya yang diganti itu namanya An-Nairuz dan Al-Mahrajan. Kedua hari raya itu kesannya hura-hura, pesta, dan mungkin ada yang lebih mengerikan lagi karena sudah ada sejak zaman jahiliah. Nah, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha yang lebih indah datang menggantikan.
Adikku mau ke masjid. Dia ikut lomba tahfiz Al-Qur'an. Alhamdulillah juara ke-3.

Hari Raya Idul Fitri sendiri biasa disebut Hari Raya Kemenangan. Ya, karena Hari Raya Idul Fitri ada setelah umat Islam beribadah shaum atau puasa selama bulan Ramadhan. Menahan haus, lapar, napsu-napsu, menggunjing dan kelakuan jelek lainnya, dari terbit fajar sampai terbenam matahari; bukankah itu suatu perjuangan yang berat?
Maka Hari Raya Idul Fitri itu diberikan bagi siapapun yang selama shaumnya bisa “kembali ke suci”. Bagi yang shaumnya bolong-bolong, tarawihnya jarang, sholatnya sering ketinggalan, baca Al-Qur’annya hanya satu juz selama sebulan (apalagi yang tidak baca sama sekali), sodaqohnya sama aja dengan hari-hari biasa; Hari Raya Idul Fitri rasanya bukan Hari Kemenangan.
Bentuk perayaan lainnya di setiap daerah, apalagi di belahan dunia yang jauh, berbeda-beda. Di kita Indonesia, Hari Raya Idul Fitri sering ditandai dengan “mudik”, maaf-maafan ke rumah saudara, tetangga dan kenalan lainnya, baju baru, kumpul keluarga, makan kupat-opor ayam, dsb.
Kamu udah beli baju baru? Aku sih kurang kepikiran. Aku hanya ingin hatam Al-Qur’an, yang lainnya nyusul. Kamu mau mudik? Semoga selamat dan lancar di jalan ya. Aku sendiri tidak “mudik”, tapi “ngota”. Rumahku kan di kampung pinggir hutan, Idul Fitri rencananya ke Bandung (rumah nenek), jadi ke kota, bukan ke udik.
Minal aidzin wal faidzin, maafkan lahir dan bathin. Selamat Hari Raya Idul Fitri. Semoga kita sama-sama “kembali ke fitri”, kembali menjadi suci. Aamiin. ***


Artikel ini disponsori oleh:
Impian Mila

Judul : IMPIAN MILA
Penulis : Hanna Qurrota Aini, Nadira Ramadhan Rosapatria, Zahra Roidah Amalia Hasna, Nabila Najlaa, Hesty Nurul Kusumaningtyas, Ghilman Fadhlil Azhim Tasya, Fityan Fadhlil Azhim Tasya, Semilir Asih Istiqamah
ISBN : 978-602-1614-96-9
Harga : 25.000

PEMESANAN HUB:
WA :  085772751686
BBM : 5CEFDB37 

Ingin tahu lebih banyak tentang buku IMPIAN MILA? Klik saja DI SINI,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar